A
Asgar
asgar.id
Kembali ke Blog
Belajar Mandarin

Nenek yang Tidak Mau Dipanggil Nenek

Ringkasnya

Cerita pendek: hari pertama Sri memanggilnya 阿嬤, dan perempuan delapan puluh tahun itu langsung protes. Sebuah cerita tentang panggilan, gengsi, dan siapa sebenarnya yang sedang belajar.

19 Oktober 2026 6 menit baca
Nenek yang Tidak Mau Dipanggil Nenek

Cerita pendek. Tokoh dan kejadiannya rekaan, disusun dari hal-hal kecil yang sering diceritakan pekerja Indonesia di Taiwan. Waktu baca sekitar enam menit.


Hari pertama, Sri memanggilnya 阿嬤.

Itu yang diajarkan di penampungan. Pak instruktur menulisnya besar-besar di papan: a-má, nenek. "Pasti dipakai," katanya. "Tiap hari."

Maka pagi itu, sambil meletakkan semangkuk bubur di meja, Sri berkata dengan hati-hati, menirukan nada yang sudah dia latih di kamar mandi selama seminggu, "阿嬤,早安。"

Perempuan di kursi roda itu berhenti mengaduk buburnya. Mengangkat wajah. Menatap Sri lama sekali — lama sampai Sri mulai menghitung ulang nada-nadanya di dalam kepala, mencari di mana letak salahnya.

"阿嬤?" kata perempuan itu akhirnya. Suaranya tipis, tapi tidak lemah sama sekali. "Siapa yang kamu panggil 阿嬤?"

Sri membeku. Dia menunjuk, ragu-ragu. "Ehm… 阿嬤?"

"Saya bukan 阿嬤." Perempuan itu menegakkan punggungnya, dan untuk sesaat Sri bisa melihat seperti apa dia dulu, empat puluh tahun lalu, ketika punggung itu tidak perlu diingatkan untuk tegak. "Panggil saya 姐姐."

姐姐. Jiějie. Kakak perempuan.

Perempuan itu berumur delapan puluh dua tahun.

Satu

Namanya Nyonya Lin, dan Sri butuh tiga hari untuk bisa mengucapkan 姐姐 tanpa tersedak dulu di tengah kata.

Anak Nyonya Lin — laki-laki setengah baya yang datang tiap Minggu membawa buah dan terburu-buru — hanya mengangkat bahu ketika Sri menanyakannya. "Biarkan saja," katanya dalam bahasa Inggris yang patah-patah. "Ibu saya memang begitu. Dari dulu."

Jadi Sri membiarkannya. Dan pelan-pelan dia mengerti bahwa panggilan itu bukan sekadar iseng.

Tiap sore, kalau cuacanya bagus, Sri mendorong kursi roda itu ke taman kecil di ujung jalan. Di sana ada empat perempuan tua lain yang duduk di bangku yang sama setiap hari, dan masing-masing datang dengan perawatnya sendiri — dua dari Indonesia, satu dari Filipina, satu dari Vietnam.

Dan setiap sore, dengan ketepatan waktu seorang aktris panggung, Nyonya Lin akan menoleh dan berkata keras-keras, cukup keras untuk terdengar sampai bangku seberang:

"姐姐 mau duduk di sebelah sana."

Dan Sri, yang sudah hafal naskahnya, akan menjawab sama kerasnya, "好的,姐姐。"

Keempat perempuan tua itu akan melirik. Setiap hari. Setiap hari mereka melirik, dan setiap hari Nyonya Lin pura-pura tidak tahu dilirik, dan duduk sedikit lebih tegak dari sebelumnya.

Perawat dari Filipina, Marites, pernah berbisik sambil menahan tawa, "Nenekmu itu pemenang."

"Dia bukan nenek," kata Sri. "Dia kakak."

Dua

Bulan kedua, Nyonya Lin mulai bertanya.

Awalnya cuma menunjuk. Benda, lalu wajahnya menoleh ke Sri dengan alis naik, yang artinya: itu bahasamu, apa namanya?

"Sendok," kata Sri.

"Sen… dok."

"Air."

"A-ir."

"Pelan-pelan."

Nyonya Lin tertawa pada yang satu ini, karena dalam bahasanya sendiri ada ucapan yang bunyinya hampir sama rasanya — 慢慢來, mànmàn lái, pelan-pelan saja. Dia mengulanginya berkali-kali sore itu, bolak-balik, seperti anak kecil yang menemukan bahwa dua kata dari dunia yang berbeda ternyata saling bersalaman.

"Pelan-pelan," kata Nyonya Lin.

"慢慢來," kata Sri.

"Pelan-pelan 慢慢來."

Lalu keduanya tertawa, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menjelaskan apa yang lucu.

Yang paling lama dilatih Nyonya Lin adalah terima kasih. Entah kenapa justru itu yang dia kejar. Berhari-hari. Dan sampai akhir pun tidak pernah benar-benar jadi: yang keluar dari mulutnya selalu "telima kasi", dengan huruf r yang hilang di suatu tempat antara niat dan lidah.

Sri tidak pernah mengoreksinya. Entah kenapa, rasanya sayang.

Tiga

Bulan ketujuh, anak perempuan Sri berulang tahun.

Sri menelepon pagi-pagi sebelum Nyonya Lin bangun, dan anaknya memperlihatkan kue dari layar — kue kecil, cokelat, dengan satu lilin yang ditiup di depan kamera sampai gambarnya goyang. Neneknya tertawa di latar belakang. Semua orang melambai. Panggilannya tujuh menit.

Sesudahnya Sri masuk ke kamar mandi, menyalakan keran, dan menangis dengan sangat rapi — cara menangis yang dipelajari orang yang tidak punya kamar sendiri. Tidak lebih dari tiga menit. Lalu cuci muka, dan keluar.

Nyonya Lin sudah duduk di kursi rodanya. Entah sejak kapan.

Dia tidak bertanya apa-apa. Tidak berkata "jangan sedih", tidak berkata "nanti juga pulang". Dia cuma menepuk-nepuk kursi plastik di sebelahnya, dua kali, dan menunggu sampai Sri duduk.

Mereka duduk begitu saja sampai buburnya dingin.

Empat

Yang terjadi kemudian terjadi pada hari Rabu biasa, tanpa peringatan apa pun.

Seorang perempuan datang bertamu — kerabat jauh dari Kaohsiung, yang bicaranya cepat dan banyak, dan yang sejak masuk sudah memegang tangan Nyonya Lin sambil mengeluh tentang lalu lintas.

Lalu matanya jatuh ke Sri, yang sedang menuang teh.

"Ini yang merawatmu?" tanyanya. Nadanya tidak jahat. Cuma nada orang yang menanyakan perabot.

Sri menunggu. Dia sudah terbiasa dengan bagian ini — biasanya ada jawaban singkat, lalu pembicaraan berpindah, dan dia kembali jadi bagian dari dapur.

Tapi Nyonya Lin menarik tangannya pelan dari genggaman tamunya.

"這是我的老師," katanya.

Zhè shì wǒ de lǎoshī. Ini guru saya.

Teko di tangan Sri berhenti di udara.

Tamu itu mengerjap. "Guru?"

"Guru," kata Nyonya Lin, dengan nada seseorang yang tidak berminat mengulang. Lalu dia menoleh ke Sri, menegakkan punggungnya yang sudah tidak bisa tegak itu, mengambil napas seperti mau menyanyi, dan berkata — keras, bangga, dan sepenuhnya salah:

"Telima kasi."

Sri menaruh tekonya. Dia tertawa, dan air matanya keluar di waktu yang sama, dan dia sama sekali tidak bisa menjelaskan kepada tamu yang kebingungan itu kenapa dua hal yang berlawanan bisa terjadi bersamaan di wajah satu orang.

"Sama-sama," katanya akhirnya. "姐姐."

Lima

Malamnya Sri mengetik pesan untuk anaknya. Dia menghapusnya tiga kali karena terdengar aneh, lalu akhirnya mengirim apa adanya:

"Nak, mama sekarang punya murid."

Anaknya membalas satu menit kemudian, dengan tanda tanya dan tiga emoji yang tidak nyambung.

Sri tidak menjelaskan. Sebagian hal memang begitu — baru masuk akal kalau kamu ada di ruangannya.


Kata-kata yang muncul di cerita ini

HanziPinyinArtiCatatan
阿嬤a-máNenekPanggilan Taiwan (Hokkien). Ini yang paling umum dipakai perawat lansia
阿公a-kongKakekPasangannya 阿嬤
阿姨āyíTanteUntuk perempuan seumuran ibu — lebih muda dari 阿嬤
姐姐jiějieKakak perempuanJauh lebih muda lagi. Di sinilah letak lelucon cerita ini
老師lǎoshīGuruJuga sapaan hormat, tidak harus guru sungguhan
早安zǎo'ānSelamat pagi 
好的hǎo deBaik / oke 
慢慢來mànmàn láiPelan-pelan sajaDipakai untuk menenangkan orang yang terburu-buru atau cemas
謝謝xièxieTerima kasihYang dilatih Nyonya Lin kebalikannya — dalam bahasa Indonesia

Soal 阿嬤, 阿姨, dan 姐姐: urutan umurnya memang begitu, dan salah memilih memang terasa — bukan salah tata bahasa, tapi salah menempatkan orang. Peta lengkap panggilan keluarga Mandarin, termasuk 哥哥, 弟弟, 妹妹, dan sebutan untuk kakek-nenek dari pihak ayah dan ibu, ada di arti jiejie, gege, didi, meimei.

Kalau kamu sedang merawat lansia di Taiwan, kosakata harian yang benar-benar terpakai — makan, obat, mandi, sakit — kami kumpulkan di kosakata Mandarin untuk perawat lansia. Dan kalau yang berat justru rindunya, bukan kerjanya, ada tulisan terpisah soal itu di saat rindu rumah terasa berat.

Kerja jaga lansia dan ingin bisa mengobrol, bukan sekadar paham perintah? Chat kami di wa.me/6281125162525 — ceritakan situasimu, kami bantu carikan titik mulai yang masuk akal.

Sekali lagi: Sri dan Nyonya Lin tidak ada. Tapi 阿嬤 yang ngotot dipanggil 姐姐 itu ada di mana-mana, dan hampir setiap perawat punya satu versinya sendiri.

Artikel Terkait